<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="1016">
 <titleInfo>
  <title>Ketika Aku Tak Tahu Apa Yang Aku Inginkan</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Seunghwan, Jeon</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Lestari, Gitta Ananda</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Translator</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Jakarta :</placeTerm>
   <publisher>Gramedia Pustaka Utama</publisher>
   <dateIssued>2024</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent>xii, 268 hlm.; 13,5 x 20 cm</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Jeon Seunghwan menulis buku ini setelah ia banyak membaca buku lainnya dan membagikan kalimat-kalimat yang ternyata juga dirasakan oleh pengikutnya di media sosial. Dengan penjelasan atas kalimat-kalimat yang ia bagikan terlebih dahulu, buku ini memberikan perasaan nyaman seperti berbicara dengan sahabat.&#13;
&#13;
Sinopsis Buku&#13;
Apa yang benar-benar aku inginkan? Apakah aku sudah hidup dengan benar? Bagaimana aku harus menjalani hidup kedepannya? Kehidupan laksana rangkaian pertanyaan yang tiada berakhir. Menemukan jawabannya dengan kekuatan sendiri tidaklah mudah. Mengapa hatiku selalu merasa sepi dan hampa? Mengapa bertemu orang lain menjadi hal yang melelahkan? Mengapa aku tidak merasa bahagia padahal sudah menjalani hidup dengan sebaik-baiknya? Apakah hidup tanpa jiwa seperti ini bisa disebut kehidupan? Kalau pertanyaan-pertanyaan seperti itu terus berputar di kepala, kita jadi kelelahan dan kehilangan semangat melakukan segala hal. Kita jadi bisa sering menangis tiba-tiba. Tangisan yang muncul dari luapan emosi kita yang terpendam ketika menjalani hari-hari yang sibuk—tak punya waktu untuk menenangkan hati dan tubuh yang letih atau memikirkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Dalam tujuh tahun terakhir, penulis buku ini memberikan berbagai kalimat baik melalui berbagai aktivitas di “thebookman” melalui media seperti Facebook dan Kakao Story. Banyak orang dari berbagai generasi, pekerjaan, dan gender merasa terinspirasi dan mengatakan tulisan tersebut bagaikan “kalimat yang mengerti isi pikiran saya”</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>Self Improvement</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>Jeon Seunghwan</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>Ketika Aku Tak Tahu Apa Yang Aku Inginkan</topic>
 </subject>
 <classification>153.8</classification>
 <identifier type="isbn">9786020656298</identifier>
 <location>
  <physicalLocation>PUSTAKA LABORA Open Source Library Management System</physicalLocation>
  <shelfLocator>153.8 SEU k</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">A000760</numerationAndChronology>
    <sublocation>My Library</sublocation>
    <shelfLocator>153.8 SEU k</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>60234339.jpg.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>1016</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2024-12-13 09:49:25</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2024-12-13 09:50:25</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>